foto kosarek 2

Mereka yang Haus Pengasihan Orang Dewasa

Puluhan anak mengantri di depan rumah menantikan wahana permaianan dibuka 🙂

19 Oktober 2018

Pukul 17.24 di tangga pintu Istana Martin Kosarek, saya memperhatikan dua kelompok anak bermain voli. Sudah bisa ditebak, seperti di daerah pegunungan lainnya di Papua,nipsae’elabodan nipsabomembentuk kelompok sendiri-sendiri. Nipsa yang artinya anak laki-laki dan nipsael berarti anak perampuan. Apakah el yang mengindikasikan perempuan ini masih ada hubungan dengan akar linguistik Prancis dan Spanyol el atau elle? Mungkin menarik untuk dibahas para linguis.

Kenapa saya duduk-duduk di pintu dan mengamat-amati? Kami berdua memutuskan seminggu pertama tiba di Kos ingin lebih fokus beradaptasi dengan lingkungan baru. Kosarek, salah satu distrik di utara Kabupaten Yahukimo, Papua berada di ketinggian 1450 mdpl. Berbeda dari kedatangan kami pertama pada Januari, sekarang hampir setiap hari cuaca berganti dengan cepat. Hujan, panas, hujan, panas, atau hujan tidak berhenti sepanjang hari. Pukul 16.00, kabut sudah mulai menutupi seluruh area lapangan terbang dan rumah-rumah di sekitar pos. Dingin sekali.

Ini sudah hari kelima istri saya flu berat dan setiap menjelang sore ia meriang dan demam. Meski kami tidak banyak bekerja fisik, namun badan kami cepat lelah. Mungkin karena sel-sel kelabu otak kami terus berproses. Mencoba mengingat kosakata baru dalam bahasa lokal, menemukan kalimat bahasa Indonesia yang paling sederhana saat bertutur, dan mencerna situasi sehari-sehari yang kami amati.

Saya memperhatikan sekitar 40 anak setiap sore rajin nongkrong di pelataran rumah pos misi yang kami tempati. Berharap sang penghuni rumah akan keluar membawa layang-layang (frisbee), bola dan hula hop. Bahkan beberapa anak menunggu di depan dari pukul 10.00 atau 11.00. Mungkin karena tidak ada jam tangan, jadi meskipun berkali-kali kami bilang, “Main nanti sore ya, sekarang kalian bantu mama dulu.” Mereka tetap saja tidak beranjak.

Awalnya kami merasa senang karena anak-anak kerap berkumpul untuk membantu kami saat potong kayu bakar, menggalikan tanah untuk bibit mulberry dan serai, juga mencarikan titik untuk lubang sampah basah kami. Namun setelah seminggu, hal ini mulai mengganggu pikiran kami kenapa anak-anak ini dibiarkan dan sepanjang hari harus mencari kegiatan sendiri. Satu mama pernah bilang, “Ah, dia masih kecil belum bisa bantu ke kebun.” Hmm… Padahal kami perkirakan anaknya berusia 11 tahun dan menjadi anak yang kami andalkan saat berkomunikasi dua bahasa (Mek dan Indo). Bukan hanya itu, salah satu nipsael yang bersinar dan paling setia menanti kami di halaman adalah anak dari guru PNS Sekolah Dasar (yang harusnya berjalan) di sini, namun lebih sering berada di Dekai (ibu kota) untuk “urus” sekolah.

Memang sejak awal kami sudah sadar anak-anak di distrik Kos terbengkalai dan karena alasan itu jualah kami mendoakan Kosarek. Beberapa Bapak bilang sekolah terakhir aktif 15 tahun lalu. Namun, kami sempat berpikir Bapak dari nipsael yang kami temui awal tahun ini bisa memberi sejumput asa karena dia guru PNS yang masih muda, tapi sudah bawa istri dan anak kembali ke Kosarek. Ternyata menurut para gembala, sekolah hanya berjalan beberapa minggu dan tidak sampai satu bulan dia sudah ke kota meninggalkan keluarga dan anak-anak kecil ini terbengkalai lagi. Kami tanya ke nipsael kapan sekolah jalan kembali, dengan ringan dia berujar, “Ah, nanti sa bapa datang, sekolah akan jalan lagi.” Entah ini standar yang sangat rendah akan arti jalannya sebuah sekolah atau iman seorang anak kecil yang Yesus sangat hargai?

Rasa haus akan perhatian ini juga tercermin dari reaksi mereka setiap sore kami membuka pintu rumah. Kadang mereka sudah mengintip sejam sebelumnya atau mulai berteriak “mau main”, “layang-layang”, atau “bola”. Saat kami buka pintu mata mereka menyala dan siap untuk menyambut apa yang ada di tangan kami. Kalaupun kami tidak bawa permainan, nyala mata mereka tidak memudar. Karena kami akan bertanya, “Siap main permainan baru?” Dalam sekejap mereka sudah lupa frisbee dan hulahup, malah langsung bersorak menyambut “Iyaaaa…mauuu.” Terlebih lagi kalau kami bicara dan bertanya dalam bahasa ibu mereka, bahasa Mek, maka kian antusias suara anak-anak ini membalas.

Tetap gembira dengan permainan baru, tanpa layang-layang dan hula hup.

Terlihat sekali kehausan anak-anak ini untuk berkegiatan bersama orang dewasa yang memperhatikan keberadaan mereka. Mereka rindu diajak bermain dan haus akan hal-hal baru. Sayangnya, dari apa yang kami dengar dan lihat, anak-anak tidak lagi merasakan pola asuh orang tua seperti dulu yang umumnya selalu melibatkan anak-anak untuk berburu, bikin pagar, berkebun, membaca medan, bangun jembatan, diceritakan cerita nenek moyang, dan bangun honai. Karena kebun jaraknya jauh-jauh, orang tua merasa lebih mudah pergi ke kebun dengan meninggalkan anak-anak mereka di rumah. Menjadi sebuah kabar duka ketika pengetahuan tradisional yang notabene adalah kearifan lokal masyarakat pegunungan sudah mulai dihentikan.

Orang dewasa semakin enggan melibatkan anak beraktivitas. Dibandingkan melihat anak-anak sebagai penolong, mereka lebih sering dilihat sebagai pengganggu. “Hei, anak-anak tinggal.” Atau “Huusss.. anak-anak diam!”. Sering kami mendengar kalimat itu untuk melarang anak-anak ikut kegiatan orang dewasa atau meminta mereka tidak berbicara. Di saat lelah dan malas, kami pun cenderung berpikiran demikian. Namun karena pikiran seperti itulah anak-anak semakin berkeliaran mencari kesibukan sendiri dari pagi hingga sore. Tanpa pendampingan dan pengawasan.

23 Oktober 2018

Kami membuka pertemuan pertama pelatihan pengasuh sekolah minggu dan PAUD dengan menularkan kegelisahan itu. Mencoba membangun fondasi yang sama bahwa kami berdua beserta 21 guru dan pengasuh dari 7 kampung berkewajiban mengasihi dan memperhatikan anak-anak yang semakin terabaikan oleh kaum dewasa. Panggilan sebagai guru, kakak pengasuh, atau orang tua bukanlah memastikan anak-anak bisa pintar calistung dan punya ijasah. Melainkan memberkati kehidupan anak-anak dengan memastikan mereka tumbuh besar kuat, berhikmat, dan penuh kasih karunia Allah.

Kami sadar karena alasan ekonomi, baik di kota maupun desa, semakin sedikit orang dewasa yang menghabiskan waktunya bersama anak-anak. Maka ketika kami melatih para tutor untuk mengajar anak-anak lewat bermain bersama mereka, hal itu tidaklah mudah untuk mereka lakukan.

Akan tetapi, kami merasa kesadaran ini penting sebagai dasar yang kokoh dalam proses kami bertumbuh menjadi guru/orang tua yang lebih arif dan pengasih untuk anak-anak di sekitar kami.

Membangun fondasi kasih terhadap anak-anak yang semakin terabaikan oleh kaum dewasa

Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Lukas 18:16.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *